Langsung ke konten utama

JIHADKU MENJADI SEORANG TERORIS

Kata terorisme bukan lah sebuah hal yang tabu di era modern ini, bukan lagi sebuah rahasia umum yang harus di tutup tutupin di kalayak ramai. Terorisme dalam era ini sangatlah hal yang wajar, mulai dari teror bom bunuh diri, perebutan wilayah suatu negara, menindas warga sipil, dan tindakan keji lainnya. Banyak pelaku terorisme yang beranggapan bahwa dirinyalah yang benar, dengan melantunankan ayat ayat suci al – quran dan membawa nama islam, membuat para pelaku teror percaya bahwa dirinya sedang berada di jalan yang sudah benar untuk berjihad terhadap tuhannya. Mereka rela mengorbankan nyawa orang lain dan nyawa dirinya hanya untuk melakukan sebuah hal yang salah dan hal yang dapat merugikan orang banyak. Apakah dengan menjadi seorang teroris kita sudah termasuk berjihad dan mati dengan sangat terhormat?  Terorisme sendiri adalah serangan-serangan terkoordinasi yang bertujuan membangkitkan perasaan teror terhadap sekelompok masyarakat. Berbeda dengan perang, aksi terorisme tidak tunduk pada tatacara peperangan seperti waktu pelaksanaan yang selalu tiba-tiba dan target korban jiwa yang acak serta seringkali merupakan warga sipil.
Di Indonesia ini sudah banyak kejadian terorisme terjadi, berita yang masih sangat hangat adalah teror bom bunuh diri di Surabaya.  Empat pekan lalu adalah pekan aksi terorisme. Setelah dua malam kepolisian berjibaku dengan narapidana teroris di Rutan Cabang Salemba Mako Brimob pada 8-10 Mei, kota Surabaya mencekam karena bom bunuh diri bertubi-tubi di tiga gereja, ledakan bom di Sidoarjo, serta bom bunuh diri di Polrestabes Surabaya (13-14 Mei 2018). Karena rentetan peristiwa di Surabaya dan Sidoarjo, setidaknya 28 jiwa terenggut, dan puluhan lainnya luka-luka.
Sejak 1977, insiden separatis dan teroris meningkat di Indonesia sejak 1996. Tercatat jumlah insidennya sebanyak 65. Sementara itu, insiden terbanyak berada rentang waktu 2000 hingga 2001. Jumlah insidennya sebanyak 101 pada 2000, sedangkan pada 2001 ada 105 kejadian. Pada malam Natal, 24 Desember 2002, Jemaah Islamiyah menebarkan teror ke berbagai wilayah di Indonesia. Terhitung ada 40 insiden peledakan bom yang dilakukan oleh JI.
Sasaran dari peledakan bom tersebut adalah gereja-gereja di Indonesia. Beberapa gereja yang terkena ledakan di antaranya Gereja Huria Kristen Batak Protestant (HKBP) di Pekanbaru, Gereja Santo Yosef, Kanisius, Koinonia, dan Katedral di Jakarta, dan Gereja Sidang Kristos di Sukabumi. Insiden ini menewaskan 21 orang dan melukai 138 orang lainnya.
Terorisme, seperti yang terjadi di Surabaya, umumnya dilihat sebagai sesuatu yang lekat dengan ajaran agama akibat pemahaman tertentu atas ajaran agama Islam. Namun, jika kita merujuk data Global Terrorism Database atau GTD (dataset) dari 1977-2016 dan pemetaan kasus terorisme oleh Esri Story Maps pada 2017-2018, aksi teror atas nama agama bukanlah satu-satunya kategori terorisme.
Aksi teror di Surabaya adalah aksi teror yang mambawa nama islam dan doktrin bahwa mereka sedang berjihad melawan keburukan, bom bunuh diri yang di lakukan di 3 gereja adalah satu keluarga. Apakah disini orang tua tidak tega melihat anak kecil atau anaknya sendiri melakukan tindakan bom bunuh diri yang nantinya anak itu akan kehilangan nyawanya?
Pelaku terorisme sudahlah tertutup mata hatinya, yang ada dalam pikiran mereka adalah jihad di jalan yang beneran dengan membuah kerusuhan di muka bumi ini. Jessica Stern, menjelaskan dalam bukunya Terror in the Name of God bahwa jihadis Islam di pegunungan Pakistan dan pengebom fundamentalis Kristen di Oklahoma memiliki banyak kesamaan. Selama empat tahun, ia mewawancarai anggota ekstremis Kristen, Yahudi, dan Islam, dan ia menemukan orang-orang tersebut telah melalui kemiskinan, penindasan, dan penghinaan yang panjang.

Isu yang mereka angkat lewat aksi teror adalah keadilan atas hak-haknya dan berpegang teguh pada keyakinan tersebut. Sayangnya, organisasi teroris memanipulasi mereka dengan menggunakan agama sebagai motivasi dan pembenaran. Mereka kemudian direkrut dan semangat yang membara tadi digunakan untuk kepentingan organisasi teroris tersebut.
Di sisi lain, dua variabel tadi—radikalisme dan isu kesejahteraan—berada pada posisi yang sebaliknya dalam pemahaman Elina Vuola, Profesor Fakultas Teologi di University of Helsinki. Ia menyatakan bahwa kurangnya pemahaman terhadap dasar agama mendorong rentannya propaganda dan radikalisasi. Baginya, faktor primer yang menyebabkan radikalisasi adalah pemahaman agama yang tidak benar. Sementara itu, kemiskinan dan pendidikan menjadi faktor sekunder yang melatarbelakangi hal ini.
Terorisme yang sering melanda bangsa ini adalah karena pemahaman agama yang tidak benar, masih banyak aliran di Indonesia ini yang tidak sesuai dengan ajaran agamanya dan tidak sesuai dengan moral ideology bangsa Indonesia yaitu Pancasila. Tindak terorisme sangat lah di kecam dan tidak sejalan dengan pemahaman ideology kita, Jihad bukan berarti untuk menyerukan kegaduhan ataupun kematian sesoarang, jihad bukan berarti sebuah tindak kekerasan, jihad bukan berarti sebuah tindakan keji berkedok islami, tapi jihad adalah sebuah bentuk perdamaian yang tidak menyerukan sebuah kekerasan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Belajar dari sistem pendidikan Finlandia

Bagaimana Indonesia Belajar dari Sistem Pendidikan Terbaik Dunia, Finlandia? 11/08/2013 0 Comments   PISA  (Programme for International Student Assessment) adalah suatu lembaga internasional yang mengukur kemampuan siswa di seluruh dunia. . Tahun 2000 lalu, PISA mengeluarkan hasil evaluasinya mengenai kualitas anak-anak berumur 15 tahun untuk kompetensi membaca. Dari 40 negara, ternyata diketahui bahwa anak-anak Finlandia memiliki kemampuan membaca paling baik di dunia. Tiga tahun kemudian, negara ini menghasilkan anak-anak berkemampuan Matematika terbaik di dunia. Tahun 2006, Finlandia merupakan salah satu dari 57 negara terbaik di bidang Sains. Tahun 2009, negara ini menjadi yang terbaik kedua di Sains, ketiga di Membaca dan keenam di Matematika diantara hampir setengah juta jiwa siswa di dunia (sumber   di sini ). Apa rahasia mereka? Infografis di bawah ini akan sangat membantu.  Please Include Attribution to OnlineClasses.org With This Grap...
LAPORAN KERJA UJI KANDUNGAN ZAT DALAM MAKANAN   Anggota kelompok : 1.        Arfian Cahya Dwi Setya 2.       Dewi Sulistiawati 3.       Deva Ayu Pradani 4.       Egga Azzahra 5.        Esa Muhammad Faruq Rahmat 6.       Fauzan Abdul Rafi 7.        Tasya Bella Roza Kata Pengantar             Puji syukur kepada kehadiran tuhan yang maha esa Allah SWT.,atas berkat dan rahmatnya saya dapat menyelesaikan tugas kami dalam Praktek uji kandungan zat dalam makanan. Dengan adanya laporan ini kami Berterima kasih kepada orang orang yang telah mendukung adanya program praktek uji kandungan zat ini, Kepada bapak Yusuf yang telah mengarahkan kami semua kepada jal...

Review Buku dalam Bahasa inggris

Hope in Memories Title of the Book                                : Harapan dalam Kenangan Writter                                                : Jee Editor                                                 : Indrasta Publisher                                            : Rumah Oranye Year of Published                               : 2014 Pages                              ...